Harga BBM telah ditetapkan naik dari Rp.
4.500 menjadi Rp. 6.500, sebagai kompensasi pemerintah berjanji akan membagikan
BLSM kepada kelompok yang rentan terhadap dampak kenaikan BBM. Terlepas dari
berbagai persoalan pembagian balsem kepada masyarakat, sesungguhnya kenaikan
harga BBM ini harus dibarengi dengan kesungguhan pemerintah untuk menjadikan
transportasi massal sebagai moda utama di seluruh kota besar di Indonesia
karena hal ini sangat terkait dengan upaya melakukan penghematan penggunaan
BBM.
DKI Jakarta dapat digunakan sebagai
contoh, betapa kemacetan telah demikian merugikan kita semua. Menyitir data
IPKC (2012) kerugian akibat kemacetan di DKI Jakarta saja sebesar Rp. 68
Triliun per tahun, baik karena BBM yang menguap di tengah kemacetan maupun
kerugian akibat berbagai penyakit yang timbul dari polusi udara, apalagi kalau
bicara kualitas hidup! Bandingkan angka tersebut dengan total investasi untuk
membangun monorel penumpang Jabodetabek, monorel bandara dan monorel barang
yang akan digarap konsorsium BUMN, yang hanya membutuhkan Rp. 12 Triliun,
sedangkan monorel dalam kota yang dikerjakan Pemprop DKI Jakarta bersama pihak
swasta hanya membutuhkan Rp. 8 Triliun. Jadi total investasinya hanya 1/3 dari
kerugian akibat kemacetan.
Proyek-proyek tersebut sesungguhnya
dapat dirampungkan dalam waktu paling cepat 18 bulan, namun entah apa yang
terjadi diantara presiden dan para menteri terkait, hingga saat ini Peraturan
Presiden yang diperlukan sebagai payung hukum pelaksanaan proyek monorel
Jabodetabek tidak kunjung dikeluarkan. Apakah pemerintah sudah terlalu sibuk
membagikan balsem dan mempersiapkan alat kontrol untuk mencegah penggunaan “BBM
bersubsidi” oleh pemilik mobil sehingga lamban menyelesaikan perpres tersebut? Padahal
pembangunan monorel, khususnya yang melayani rute dari daerah penopang seperti
Bekasi dan Cibubur seharusnya menjadi prioritas, karena akan menghemat
penggunaan BBM dalam jumlah besar dan mengurangi polusi udara serta menurunnya
resiko berbagai penyakit akibat polusi yang ironisnya lebih banyak terjadi pada
kalangan miskin yang tidak bermobil.
Mari kita hitung jumlah kendaraan yang
masuk ke Jakarta dari daerah sekitarnya untuk membuktikan hal tersebut. Menurut
data Jasa Marga (2013) jumlah kendaran yang masuk ke Jakarta setiap harinya adalah
sebanyak 1.465.000 mobil melalui berbagai jalan tol yang ada. Tol Jagorawi dan
Cikampek adalah penyumbang terbesar yakni sebanyak 940.000 mobil/hari, jadi
wajar saja jika setiap hari para pengguna tol harus rela membuang-buang BBMnya
akibat kemacetan di JALAN TOL!
Bayangkan apabila 50% dari pengguna tol
Jagorawi dan Cikampek beralih menjadi penumpang monorel, dengan asumsi
penggunaan BBM rata-rata 10 liter/mobil/hari maka penghematan yang terjadi
adalah 4.700.000 liter x Rp. 6.500 = Rp. 30.055.000.000/hari atau setara
dengan Rp. 10.819.800.000.000/tahun, belum termasuk
penghematan karena berkurangnya kemacetan yang berarti kerugian sebesar Rp. 68
Triliun akibat kemacetan sebagaimana dilansir IPKC jika dianggap akan berkurang
separuhnya, ini berarti penghematan Rp. 34 Triliun sehingga total
penghematannya sekitar Rp. 44 triliun, 1/3 dari apa yang diistilahkan
pemerintah sebagai “subsidi” BBM di APBN. Belum termasuk penghematan dari
monorel bandara dan Tanjung Priok bahkan belum menghitung peningkatan
produktivitas yang tercipta apabila semua infrastruktur ini segera terwujud.
Lalu mengapa sampai sekarang Peraturan
Presiden yang dibutuhkan agar proyek ini segera bisa direalisasikan belum juga
turun? Mana bukti suistanable growth with
equity dengan 4 pilar pembangunan ekonomi sosial yang dicanangkan Bapak
Presiden yaitu pro-growth, pro-poor, pro-job dan pro-environtment? Jangan
sampai tarik ulur kebijakan terjadi hanya karena hitung-hitungan politik menuju
2014, padahal realisasi berbagai infrastruktur tersebut sudah amat sangat
mendesak! Bagi DKI Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Rakyat sedang menunggu era baru yang
mengarusutamakan transportasi publik, semoga presiden dan para menterinya tidak
lamban mewujudkan Perpres untuk hal-hal yang bersifat produktif dan bisa berdampak pada perbaikan lingkungan hidup, bahkan bisa menghemat penggunaan BBM yang berarti juga menghemat devisa karena sampai sekarang pemerintah masih hobi impor BBM. Pada kasus monorel ini, hanya untuk jurusan Jakarta-Cibubur saja setiap hari keterlambanan
akan diboroskan Rp. 120 Milyar uang negara. Apalagi sesungguhnya draft Perpres sudah masuk
di Menko Perekonomian sejak Maret 2013 artinya sudah 6 bulan berlalu hingga
hari ini, jangan sampai justru setelah rakyat dikurangi “subsidinya” dengan
kenaikan BBM, malah rakyat harus mensubsidi Perpres karena lambannya kerja para pejabat.
Eddy Setiawan, Direktur Kajian Institut Nagarjuna
No comments:
Post a Comment